A. TAQDIM
Dahulu, para penyair memuji para khalifah untuk mendapatkan pemberian mereka, dan ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, datang kepadanya para penyair dan mereka berdiri di pintunya lama sekali, menunggu izin untuk bisa masuk kepada khalifah, maka Khalifah meminta nama2 mereka, kemudian memilih dari mereka Jariir dan memberikan Jariir izin untuk masuk. Maka ketika Jariir berdiri di depan Umar, Umar berkata: “Bertaqwalah kepada Allah, jangan katakan kecuali kebenaran, wahai Jariir.” Maka Jariir membacakan syair didalamnya keluhan atau pengaduan kondisi kaumnya setelah tidak turun hujan kepada mereka.
B. NASS
Betapa banyaknya janda tidak terurus di Yamamah, dan anak yatik yang lemah suara dan pandangannya (karena lapar).
Mereka (yatim) menganggap khalifah sudah cukup (sebagai ganti) orangtuanya yang wafat, seperti lemahnya anak burung di sarangnya, tidak bisa bangun dan terbang
Wahai Khalifah Allah! Apa yang akan engkau lakikan terhadap kami (atau engkau berikan), kami datang kepadamu untuk meminta tolong, sedangkan kami tidak bisa menunggu lama karena kami jauh dari rumah kami
Engkau adalah yang diberkahi, dan diberi petunjuk dalam hidupmu, menyelisihi hawa nafsumu, dan bangun malam (untuk sholat, ibadah) dengan banyak surat Al-Qur’an.
Engkau telah menjadikan mimbar/masjid penuh manusia (ramai) dan indah, dan menghiasi istana dan kamarmu (Beliau telah menjadi hamba, raja, dan ayah serta suami yang baik).
Sepanjang hidupmu engkau selalu berjuang untuk Islam, darimu tampak jelas kerajaan ini bersinar (dengan menerapkan Islam)
Sedungguhnya kami benar-benar berharap kepada Allah kemudian kepada Khalifah, ketika hujan tidak datang pada waktunya, kami berharap Khalifah bisa memberi kebaikan2 yang kami harap dari hujan (atau bisa memberi sesuatu agar mereka bisa hidup layaknya jika hujan turun)
Dan janda2 ini telah engkau berikan apa keperluan mereka, maka mana bagian/keperluan untuk duda? (karena penyair nya ini duda jadi dia minta bagian juga kaya janda)
C. QOILUN NASS
Jariir bin ‘Athoyah At-Tamimi, dilahirkan di Yamamah ketika masa Khalifah Utsman bin ‘Affan, dan tumbuh dalam kondisi faqir dengan menggembala kambing, bersyair, dan berhubungan (bertemu) dengan Khalifah maka dia memujinya. Dia adalah penyair yang baik (handal), kebanyakan syair nya adalah pujian, ejekan, dan kebanggaan. Dia wafat di Yamamah kisaran tahun 110 H setelah hidup lebih dari 80 tahun.
Komentar
Posting Komentar